Kamis, 23 Februari 2012

Can't Let You Go Even If I Die

Can't Let You Go Even If I Die

어려도 아픈 건 똑같아
세상을 잘 모른다고
아픈걸 모르진 않아


괜찮아 질 거라고 왜 거짓말을 해
이렇게 아픈 가슴이 어떻게 쉽게 낫겠어
너 없이 어떻게 살겠어 그래서 난


* 죽어도 못 보내
내가 어떻게 널 보내
가려거든 떠나려거든
내 가슴 고쳐내
아프지 않게 나
살아갈 수 라도 있게
안 된다면 어차피 못살 거
죽어도 못 보내

아무리 니가 날 밀쳐도
끝까지 붙잡을 거야
어디도 가지 못하게

정말 갈 거라면 거짓말을 해
내일 다시 만나자고
웃으면서 보자고
헤어지잔 말은 농담이라고
아니면 난

* 반복

* 죽어도 못 보내
내가 어떻게 널 보내
가려거든 떠나려거든
내 가슴 고쳐내
아프지 않게 나
살아갈 수 라도 있게
안 된다면 어차피 못살 거
죽어도 못 보내

그 많은 시간을 함께 겪었는데
이제와 어떻게 혼자 살란 거야
그렇겐 못해 난 못해

죽어도 못 보내
정말로 못 보내
내가 어떻게 널 보내
가려거든 떠나려거든
내 가슴 고쳐내
아프지 않게 나
살아갈 수 라도 있게
안 된다면 어차피 못살 거
죽어도 못 보내

Translated

Regardless of the age, it all hurts the same
Regardless of how young you are
We all know and feel pain

Why did you lie that everything will be ok?
The broken heart doesn’t get repaired easily
How will I live without you, so

Even if I die, I can’t let you go
How could I let you go
If you’re planning to leave
Then fix my heart
So I can at least
Live on painlessly
If you can't, then since I wouldn't be able to live
I can't let you go even if I die

No matter how much you push me away
I will hold on to you till the end
So you won’t be able to go anywhere

If you are really leaving, then lie
Let's meet tomorrow
And meet with a smile
Then say that you were joking about breaking up
If not then

I can’t let you go even I die
How could I let you go
If you’re planning to leave
Then fix my heart
So I can at least
Live on painlessly
If you can't, then since I wouldn't be able to live
I can't let you go even if I die

We spent so much time together
But how could I love alone now?
I can't do that, I can't

Even if I die, I can’t let you go
I really can't let you go
If you’re planning to leave
Then fix my heart
So I can at least
Live on painlessly
If you can't, then since I wouldn't be able to live
I can't let you go even if I die



Romanization
Eoryeodo apeun geon ttok gata
Sesangeul jal moreundago apeungeol moreujin anha

Gwaenchana jil georago wae geojitmareul hae
Ireohke apeun gaseumi eotteohke shwipge natgesseo
Neo eobshi eotteohke salgesseo geuraeseo nan

Jugeodo mot bonae naega eotteohke neol bonae
Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae
Apeuji anhke na saragal surado itge
Andwindamyeon eochapi ussal geo
Jugeodo mot bonae

Amuri niga nal milchyeodo kkeutkkaji butjabeul geoya
Eodido gaji mothage

Jeongmal gal georamyeon geojitmareul hae
Naeil dashi manna jago useu myeonseo bojago
He eojijan mareul nong damirago animyeon nan

Jugeodo mot bonae naega eotteohke neol bonae
Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae
Apeuji anhke na saragal surado itge
Andwindamyeon eochapi ussal geo
Jugeodo mot bonae

Geu manheun shiganeul hamkke gyeokkeot neunde
Ijewa eotteohke honja sallan geoya
Geureohken mothae nan mothae

Jugeodo mot bonae, jeong mallo mot bonae, naega eotteohke neol bonae
Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae
Apeuji anhke na saragal surado itge
Andwin damyeon eochapi mossal geo
Jugeodo mot bonae
»»  READMORE....

Spongebob lovers :D

http://spongebob.nick-asia.com/en/splash.html

VISITTT :D
»»  READMORE....

Minggu, 19 Februari 2012

Mengapa Harus Ikut 'Edan'?

Segala puji bagi Allah Rabb Jibril, Mika’il, dan Israfil. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan panutan terbaik untuk segenap insan. Amma ba’du.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”(QS. an-Nahl: 36). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati untuk menetapi kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini sebagaimana layaknya seorang yang asing atau musafir yang sedang melintasi suatu jalan.” Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di waktu sore janganlah menunda-nunda hingga tiba waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi janganlah menunda-nunda hingga datang waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum tiba kematianmu.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq)

Saudaraku, seolah-olah dunia ini telah menipumu. Ketika dunia dengan segenap perhiasannya mengelabui manusia dengan warna-warninya yang menarik nafsu dan mengundang minat para pemuda, datanglah syaitan berwajah manusia yang membisikkan ke telingamu, “Ayo, nikmatilah masa mudamu! Sekarang ini adalah saatnya untuk kamu menunjukkan jati dirimu! Ini adalah akhir pekan, ayo kita week-end di tempat yang istimewa, yang akan memuaskan kesenanganmu! Tak usah kau ragu, untuk apa kau sibukkan dirimu dengan buku dan rekaman-rekaman kajian itu? Nikmatilah, hidupmu! Bebaslah, jangan jadikan duniamu bagaikan penjara [!!!].” Inilah contoh ungkapan begundal syaitan yang gemar menipu dan menyesatkan keturunan Adam sejak dahulu.

Tahukah engkau, wahai saudaraku… Perjalanan hidup yang tidak lama ini, bagi seorang ‘musafir’ adalah ‘sepotong siksaan’ (qith’atun minal ‘adzab) yang melukai hati dan perasaannya. Jauh dari ‘sanak famili’, jauh dari ‘sahabat dan tetangga’, dan sangat jauh dari panutan kita yang sejati. Kita hidup di tengah keterasingan, namun beruntunglah orang-orang yang asing (al-Ghuroba’), yaitu yang berusaha untuk menghidupkan kembali Sunnah yang nyaris mati dan Aqidah yang telah luntur dari dada anak negeri. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)

Saudaraku, yang dimaksud ‘orang asing’ di sini tentu saja bukan turis manca negara, yang kesana kemari berjalan dengan busana ketat dan mini, bukan pula wisatawan lokal yang kebingungan mencari kuburan wali untuk dikunjungi demi mencari berkah serta kelancaran rezeki. Tentu bukan itu, wahai saudaraku yang kusayangi… Akan tetapi orang yang asing itu adalah orang yang mempersembahkan sholat dan sembelihannya, hidup dan matinya, segalanya demi Rabb alam semesta. Orang-orang yang tidak terlalaikan oleh kehidupan dunia dari mengingat dan mengagungkan Rabb mereka. Orang-orang yang tidak menjual akheratnya demi mendapatkan secuil dunia yang hina dan tak berharga. Orang-orang yang memiliki keyakinan sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair cendekia,

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas
Mereka men-thalaq/menceraikan dunia karena khawatir akan fitnahnya
Mereka cermati isi dunia, maka tatkala

Mereka mengerti kalau ternyata dunia
Tidak layak untuk dijadikan tempat hidup selama-lamanya

Maka mereka ‘menyulap’ dunia menjadi samudera
Dan mereka gunakan amal salihnya sebagai bahtera
Yang berlayar di atasnya

Saudaraku, apa yang hendak kau katakan tentang generasi muda kita yang siang dan malam disirami dengan bisikan-bisikan syaitan dan disuguhi dengan atraksi-atraksi kemungkaran? Apakah yang ingin kau ungkapkan tentang kondisi teman-teman kita, yang dulu masih senang berkumpul di taman-taman surga (baca: majelis ilmu) kini telah beralih ke tepi pantai dan lereng gunung -di mana orang biasa berpacaran-, markaz-markaz game, atau bioskop-bioskop pribadi yang siap memuaskan pengunjung di dalam bilik-bilik internet di kota maupun pelosok-pelosok desa? Inikah yang mereka sebut sebagai kemajuan jaman dan peradaban yang tinggi itu? Ketika manusia sudah menjelma menjadi ‘binatang-binatang’ yang tidak lagi mengenal halal dan haram, tidak mengenal tauhid dan syirik, tidak peduli iman atau kekafiran, apalagi taat dan kemaksiatan… fa inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Sungguh benar firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali Imran: 102). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Taatilah Allah dan taatilah rasul dan wasapadalah, apabila kamu berpaling maka ketahuilah sesungguhnya kewajiban utusan Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.” (QS. al-Ma’idah: 92). Allah ‘azza wa jalla juga berfirman (yang artinya), “Akan tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan akherat itu jelas lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17). Allah ta’ala juga mengingatkan (yang artinya), “Alif lam lim. Apakah manusia itu mengira dia akan dibiarkan mengucapkan ‘kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diuji. Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka hal itu agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang benar dan siapakah yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-3). Allah ta’ala juga memperingatkan (yang artinya), “Di antara manusia ada orang-orang yang mengatakan ‘kami beriman kepada Allah dan hari akhir’ padahal sesungguhnya mereka bukan orang-orang mukmin. Mereka hendak mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka tidak menipu siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Namun, mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah pun tambahkan kepada mereka penyakitnya…” (QS. al-Baqarah: 8-10)

Kita hidup di saat sebagian besar para pemuda tidak berhasrat untuk menyelami kandungan ayat-ayat suci, tidak merasa enjoy dengan menyimak sabda-sabda Nabi, apalagi tergerak untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di berbagai penjuru bumi. Mereka terlena oleh artis-artis film, penyiar-penyiar televisi, jadwal pertandingan bola kaki (baca: sepak bola), dan pusat-pusat perbelanjaan yang memanjakan pengunjung dengan barang-barang dan makhluk-makhluk yang menggiurkan. Mereka lebih mengenal seluk-beluk berita terkini selebriti daripada sejarah kepahlawanan para sahabat Nabi. Aduhai, di jaman apa kita sekarang ini?

Tidakkah kita ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “La ilaha illallah. Hampir-hampir saja kebinasaan menimpa bangsa Arab akibat keburukan yang sudah dekat. Pada hari ini dinding yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar ukuran ini.” -Sufyan, salah seorang periwayat menggambarkan dengan melingkarkan jarinya seperti angka sepuluh-. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sementara di antara kami masih banyak orang salih?”. Maka beliau menjawab, “Iya. Apabila perbuatan maksiat telah merajalela.”(HR. Muslim dalam Kitab al-Fitan). Apabila kemaksiatan dengan berbagai macam bentuknya telah merajalela, maka apa jadinya nasib kita -wahai saudaraku-?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat jatuhnya fitnah di sela-sela rumah kalian bagaikan tempat-tempat jatuhnya air hujan.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Fitan). Kalau di masa Nabi masih hidup saja, fitnah itu telah turun ke permukaan bumi bagaikan turunnya air hujan, maka bagaimanakah fitnah yang datang sesudah wafatnya beliau dan setelah berlalunya para khulafa’ur rasyidin, bukankah ia laksana terpaan gelombang lautan, dan seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Ketika itu, di pagi hari seorang hamba masih berhias dengan nilai-nilai keimanan, namun di sore harinya dia telah terperangkap dalam jerat-jerat kekafiran, nas’alullahal ‘afiyah!

Maka sekarang jawablah pertanyaanku, wahai saudaraku… mengapa kita harus ikut-ikutan edan (gila) sebagaimana orang-orang yang telah terbius oleh tipu daya syaitan dan bala tentaranya? Apakah kita akan menjawab dengan jawaban orang yang ngawur, “Nek ora edan ora komanan.” Kalau tidak ikut gila nanti tidak kebagian. Maka ingatlah wahai saudaraku, … memang jatah untuk orang-orang yang beriman akan disempurnakan oleh Allah di akherat kelak, bukan di sini! Tidakkah kau ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maukah kukabarkan kepada kalian tentang penduduk surga? Setiap orang yang lemah dan diremehkan. Seandainya dia berdoa dengan bersumpah atas nama Allah niscaya Allah kabulkan doanya.” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda,“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan ditolak di pintu-pintu gerbang, namun seandainya dia berdoa dengan bersumpah atas nama Allah maka Allah pasti kabulkan permintaannya.” (HR. Muslim). Lihatlah mereka -para penduduk surga- yang di dunia dihinakan dan diejek oleh manusia, namun di sisi Allah mereka jauh lebih mulia daripada para majikan dan raja-raja!

Untuk apa kau tukar akherat yang kekal dengan dunia yang sementara? Tidakkah kau ingat betapa luas dan besarnya neraka sehingga akan siap dan pasti muat untuk menyiksa siapa saja yang durhaka kepada Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Pada hari ini -hari kiamat- neraka Jahannam didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kekang yang melekat padanya. Di setiap tali kekang itu terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menyeretnya.” (HR. Muslim).

Untuk apa kau tukar akherat dengan dunia, sementara di akherat nanti kematian akan disembelih dan binasa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka pun telah memasuki neraka, maka kematian didatangkan lalu diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian ia disembelih. Lalu ada yang berseru, ‘Wahai penduduk surga, kematian sudah tiada! Wahai penduduk neraka, kematian sudah tiada!’. Maka penduduk surga pun semakin bertambah gembira, sedangkan penduduk neraka justru semakin bertambah sedih karenanya.” (HR. Muslim). Nah, kira-kira di manakah tempat yang nyaman ketika itu, di surga ataukah di neraka?

Ya Allah kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari api neraka.

Segala puji hanya bagi-Mu, yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali diri-Mu. Salawat dan salam semoga terus tercurah kepada seorang hamba dan utusan-Mu, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka hingga kiamat tiba.

Yogyakarta, awal Dzulhijjah 1430 H
Yang selalu membutuhkan Rabbnya

Abu Mushlih Ari Wahyudi
-semoga Allah mengampuninya-

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id

»»  READMORE....

Menjadi Orang Asing di Dunia

وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

Penjelasan

Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya.

Ibnu Umar berkata: [Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku]. Hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata: [Beliau pernah memegang kedua pundakku]. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan]. Jika manusia mau memahami hadits ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam -pent) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Alloh adalah surga. Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan oleh Al Musthofa shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam ‘alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak. Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair:

نقل فؤادك حيث شئت من الهوى مـا الحـب إلا للحبيب الأول

Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai

Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu

Yaitu Alloh jalla wa ‘ala

كم منزل في الأرض يألفه الفتى وحنينـــه أبــدا لأول مــنزل

Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang

Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula

Yaitu surga

Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala. Yaitu orang yang hati mereka senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.

Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun,

فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً

“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al Ankabut: 14)

Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu. Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup selama beberapa ratus tahun kemudian zaman mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya.

Hakikat mereka adalah seperti orang asing atau musafir. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.

Kemudian Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma melanjutkan dengan berwasiat,

إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء

“Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada pagi hari jangan menunggu datangnya sore.”

Yaitu hendaklah Anda senantiasa waspada dengan kematian yang datang secara tiba-tiba. Hendaklah Anda senantiasa siap dengan datangnya kematian. Disebutkan dari para ulama salaf dan ulama hadits bahwa jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan datang kepadanya malam ini, maka belum tentu dia dapat menambah amal kebaikannya.

Jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan datang kepadanya malam ini, maka belum tentu dia dapat menambah amal kebaikannya. Hal ini dapat terjadi dengan senantiasa mengingat hak Alloh. Jika dia beribadah, maka dia telah menunaikan hak Alloh dan ikhlas dalam beribadah hanya untuk Robbnya. Jika dia memberi nafkah pada keluarganya, maka dia melakukannya dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat. Jika dia berjual beli, maka dia akan melakukan dengan ikhlas dan senantiasa berharap untuk mendapatkan rezeki yang halal. Demikianlah, setiap kegiatan yang dia lakukan, senantiasa dilandasi oleh ilmu. Ini adalah keutamaan orang yang memiliki ilmu, jika mereka bertindak dan berbuat sesuatu maka dia akan senantiasa melandasinya dengan hukum syariat. Jika mereka berbuat dosa dan kesalahan, maka dengan segera mereka akan memohon ampunan. Maka dia akan seperti orang yang tidak berdosa setelah beristigfar. Ini adalah kedudukan mereka. Oleh karena itu Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma mengatakan:

وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري

“Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

***

Penulis: Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba’in no. 40 oleh Abu Fatah Amrullah
Murojaah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

»»  READMORE....

Tak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian” (HR. Muslim)

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar” (HR. Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi S.Si.
Artikel Muslim.Or.Id

Dunia ini tak senilai dengan sayap nyamuk. Jadi janganlah kita terperdaya akan keindahan dunia. Karena semua yang di dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. Keep fighting! :DInhat, istirahatnya orang muslim itu sampai ajal datang menjemput. Karena iblis dan setan tidak akan pernah beristirahat sampai kaki manusia menginjak neraka. Naudzubillah..


اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ -٢٠-

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (Q.S Al-Hadiid : 20)

»»  READMORE....