Minggu, 10 Juni 2012

Materi Biologi : Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan

Ini adalah postingan sejenis dengan postingan materi biologi sebelumnya. Seperti biasanya postingan ini adalah tempat belajar bersama. Banyak copasnya juga. Dan apabila terdapat kesalahan dimohon koreksinya di post komen dibawah. Terima kasih :)

1. Quassinoid dan metabolit sekunder

a. Quassinoid
Kuassinoid sering dihubungkan dengan kelompok senyawa yang pada prinsipnya pahit dari family Simaroubaceae, dan secara kimia kuassinoid adalah degradasi dari triterpen. Berdasarkan kerangka dasarnya, kuassinoid dikategorikan ke dalam lima grup yang berbeda, yaitu C-18, C-19, C-20, C-22, dan C-25.

b. Metabolit sekunder
salah satu organ pada tumbuhan yang banyak mengandung metabolt sekunder adalah akar. hal ini membuat para peneliti untuk terus berupaya mengembangkan teknik untuk memperbanyak akar tanaman-tanaman penghasil metabolit sekunder.

Akar berambut adalah anak akar yang berupa akar kecil berbentuk seperti rambut halus. Sedangkan yang dimaksud dengan kultur akar berambut adalah suatu metode budidaya akar berambut secara in vitro dengan kondisi yang terkendali dan aseptis.
Kultur akar merupakan kultur jaringan akar yang hidup dan berdiferensiasi secara terorganisir membentuk biomasa akar tanpa kehadiran tipe organ lain dari tanaman seperti batang, tunas atau daun secara in vitro (Payne et al. 1992). Akar yang dikulturkan dapat berupa akar normal atau akar transgenik hasil transformasi genetik. Kultur akar normal diperoleh dengan menanam ujung akar tanaman atau kecambah secara in vitro dalam media yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman. Sedangkan kultur akar transgenik diperoleh dengan menanam akar rambut (hairy root) yang dihasilkan dari transformasi genetik dengan bantuan Agrobacterium rhizogenes

Kegunaan
Kultur akar berambut merupakan kultur organ pada teknik kultur jaringan tanaman yang utamanya digunakan untuk memproduksi metabolit sekunder.
Kaitan Kultur Akar Berambut dengan Metabolit Sekunder
Kultur akar berambut yang telah dilakukan yaitu kultur dari akar yang merupakan hasil transformasi sel tanaman dengan Agrobacterium rhizogenes. Agrobacterium merupakan bakteri tanah yang mempunyai kemampuan untuk mentransfer T-DNA dari plasmid yang dikenal dengan Ri plasmid (root inducing plasmid) ke dalam sel tanaman melalui pelukaan (Nilson & Olsson, 1997).

Prosesnya adalah sebagai berikut, T-DNA akan terintegrasi pada kromosom tanaman dan akan mengekspresikan gen-gen untuk mensintesis senyawa opine, di samping itu T-DNA juga mengandung onkogen yaitu gen-gen yang berperan untuk menyandi hormon pertumbuhan auksin dan sitokinin. Ekspresi onkogen pada plasmid Ri mencirikan pembentukan akar adventif secara besar-besaran pada tempat yang diinfeksi dan dikenal dengan ‘hairy root’ (Nilson & Olsson, 1997).
Penyerangan terhadap akar oleh bakteri Agrobacterium rhizogenes yang menyebabkan tumbuhnya akar berambut secara cepat pada eksplan. akan dapat menghasilkan metabolit sekunder.
Kultur akar rambut tersebut telah digunakan untuk mempelajari keberadaan senyawa bioaktif seperti ribosome inactivating protein (RIP) atau senyawa bioaktif lainnya (alkaloida, flavonoida, poliaetilena dan fitoaleksin) (Toppi et al. 1996; Savary & Flores 1994). Akar rambut dari L. cylindrical dilaporkan memproduksi RIP yang diberi nama luffin dengan kuantitas dan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diproduksi oleh bagian tanaman lainnya (Toppi et al. 1996).
Jaringan tumbuhan relatif lebih homogen daripada jaringan hewan. Tumbuhan tidak memiliki kemampuan lokomosi (berpindah)/bergerak secara aktif sebagaimana hewan. Meskipun demikian, banyak sel-sel baru terbentuk untuk berbagai jaringan sebagai kompensasi banyaknya sel-sel yang mati, yang menjadi pasif karena berperan sebagai sel-sel penyimpan cadangan energi (misalnya pada buah atau umbi) atau metabolit sekunder, dan untuk mengisi jaringan baru karena tumbuhan selalu bertambah massanya, khususnya bagi tumbuhan tahunan. Jaringan yang aktif memperbanyak diri dan tidak memiliki fungsi khusus disebut jaringan meristematik, sementara jaringan yang telah mantap dengan fungsinya disebut jaringan tetap/permanen.
Jaringan dasar menyusun sebagian besar tubuh tumbuhan (biomassa). Kelompok jaringan ini memiliki banyak fungsi tergantung tempat ia berada. Seringkali ia mengisi bagian terbesar dari suatu organ, menyusun daging buah, kulit batang, isi umbi atau rimpang yang menyimpan pati atau metabolit sekunder tertentu (seperti alkaloid dan terpenoid). Jaringan ini juga dapat mengalami kematian dengan mengosongkan isi sel-selnya untuk membentuk struktur berongga (aerenkim) seperti ruang dalam gelembung pada tangkai daun enceng gondok atau rongga dalam buluh bambu.

2. Pembuluh xilem dan floem

a. Xilem
Xilem berfungsi menyalurkan air dan mineral dari akar ke daun. Jaringan utama penyusun xilem adalah trakea dan trakeid. Kedua macam sel tersebut merupakan sel mati, tidak mengandung sitoplasma dan inti hanya tinggal dinding selnya. Ujung dinding sel antara sel-sel yang berdekatan menghilang sehingga membentuk tabung berlubang dari akar – batang – daun.
Dan apabila sebuah tanaman dipotong bagian akarnya dan batang tanaman ditaruh di dalam larutan berisi tinta selama beberapa jam, akan terjadi pewarnaan tinta seperti gambar dibawah. Daerah itu merupakan daerah xilem dan tepat bila dikaitkan dengan fungsinya yang mengangkut cairan dari akar ke daun.
Gambar : soal OSK 2012



b. Floem
Floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke bagian lain tumbuhan. Pada tumbuhan dikotil, floem terletak di sebelah luar xilem.
Floem terdiri dari pembuluh tapis, sel pengantar, parenkim dan serat.Cairan floem terutama berisi gula (sukrosa), dimana konsentrasi sukrosa dapt mencapai 30% yang menyebabkan cairan floem seperti sirup. Cairan floem juga berisi mineral, asam amino, dan hormon tumbuh.
Angkutan cairan floem berasal dari tempat dihasilkannya gula ('sugar source') ke 'sugar sink'. Sumber gula adalah organ tempat fotosintesis (daun) atau tempat pemecahan pati. 'Sink' gula adalah organ pemakai atau penyimpan gula (akar, pucuk, batang, buah, umbi). 'Sink' gula biasanya menerima gula dari sumber gula terdekat. Satu pembhuluh tapis dalam berkas pembuluh dapat mengangkut cairan floem dalam satu arah sementara cairan dalam pembuluh tapis lain dalam satu berkas pembuluh bergerak berbeda. Gula dari sumber pembuluh tapis diangkut melalui simplas atau kombinasi simplas atau apoplas.
Gambar : Cambell et al., 2001



Arah aliran tekanan pembuluh tapis


3. Aliran simplas dan apoplas

Gambar : Cambell et al., 2001



Keterangan gambar :
Komparteman sel-sel dan jaringan tumbuhan dan rute transpor lateral
(a) Dinding sel, sitosol, dan vakuola adalah tiga kompartemen pada sebagian besar sel-sel tumbuhan yang telah dewasa. Protein transpor spesifik yang terbenam dalam membran plasma dan tonoplas mengatur lalu lintas molekul di antara ketiga kompartemen tersebut
(b) Pada tingkat jaringan, terdapat dua kompartemen, simplas dan apoplas. Simplas adalah kontinum sitosol yang didasarkan pada plasmodesmata, yaitu saluran yang menghubungkan protoplas melalui dinding. Apoplas adalah rangkaian dinding sel dengan ruangan ekstraseluler. Anatomi ini memberikan tiga rute untuk transpor lateral dalam jaringan atau organ tumbuhan. Dengan suatu rute trasmembran, zat terlarut dan air bergerak menembus suatu organ melalui penembusan membran plasma dan dan dinding sel secara berulang di sepanjang lintasan tersebut. Dalam rute simplastik, bahan-bahan yang telah memasuki satu sel bergerak melewati suatu organ melalui rangkaian sitosolik. Struktur plasmodesmata yang kompleks itu barang kali mengatur trasnpor melalui simplas, bahkan memperbolehkan aliran proteintertentu dan molekul besar lainnya antar sel. Dalam rute apoplastik, air dan zat terlarut berjalan melewati jaringan atau organ melalui dinding sel dan ruangan ekstraseluler. Pada diagram ini, bahan-bahan kelihatannya terbatas pada salah satu dari tiga rute, pada kenyataannya bahan-bahan bisa dipindahkan dari satu rute ke rute lain selama perjalannya melewati suatu organ.


.....to be continued
»»  READMORE....

Emoticon, Just for Fun!

Nah, karena jaman ini adalah jaman modern terlebih lagi manusianya tambah ekspresif, biasanya dalam menulis saja mereka kebanyakan juga menggunakan simbol-simbol menarik untuk membumbui tulisan mereka untuk menghidupkan suasana tulisan. Biasanya menggambarkan beberapa ekspresi.
Ekspresi yang sudah kuno atau terdapat dari dulu kala, biasanya cuma berupa simbol-simbol seperti tersenyun :) , sedih :(, dan sebagainya. Namun sekarang banyak simbol yang lebih mengarah ke gambar wajah. Wow wajah dalam ekspresi tulisan.
Kalau untuk penulisan informal, biasanya dengan orang yang sudah akrab akan lebih menyenangkan menggunakan simbol-simbol tertentu. Namun pada saat formal, jangan sampai menggunakan emoticon ekspresif seperti itu. Hm, apalagi klau menulis surat untuk instansi pemerintahan. Langsung buka amplom langsung di TOLAK.

Tapi karena bagian ini adalah bagian hiburan, maka disini akan dibagikan beberapa simbol yang akan terus diperbanyak dan direvisi. Tujuannya hanya untuk membantu kalian mudah dalam menemukan simbol-simbol ekspresif. Bisa di-copy kok. Disini berbagi simbol, antara lain seperti ini:

(˘ʃƪ˘)
ƪ(˘•˘)ʃ
(•̯͡.•̯͡)
(˘▾˘)
(ˇ▽ˇ)-c<ˇ⌣ˇ)
(˘_˘")
("`▽´)
( ˘͡ -˘͡)
(˘▾˘)
( ˘з˘)ε˘ )
(˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)
(˘▼˘)ง
ƪ(‾ε‾“)ʃ
(⌣́ʃ.ƪ⌣̀)
(˘)з┌◦◦◦♥
\(!!˚☐˚)/ \(˚☐˚!!)/
(¬_¬)​
(˘⌣˘ʃƪ)
\(´▽`)/
~('.'~) (~'.')~
(º̩̩́Дº̩̩̀)
( ˘˘̯)

Ԅ(`▿▿´ Ԅ)
(´._.`)\('́⌣'̀ )
(˘ڡ˘)
(˘̩̩̩.˘̩ƪ)
(˘•_•˘")
(!`☐´)づ)˚з°)
(˘﹏˘")
(σ`▽´)-σ ‏
( ‾▿‾")
ƪ(´0`)ʃ
(˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)
ℱℴℓℓℴω ⇨
( ˘-˘)ง
<( ˘͡ -˘͡)>
(҂'̀⌣'́)9
(ɔ ˆ​​​​зˆ‎​​​​)ɔ ♡
(―˛―“)
(۳ ˚Д˚)۳
O̷̴̷̴̐ﻬO̷̴̷̴̐
Щ( ºДºщ)
(" `З´ )_,/"(>_<'!)
(˘̶ِ̀ ˘̶́҂)-σ
(.__.)
("╰ _ ╯ )
(ง`⌣´)ง
┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌
(┌','┐)
ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ
>̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡
~(‾⌣‾~) (~‾⌣‾)~
°\(^▿^)/°
(•͡˘˛˘ •͡)
(•̀_•́)ง
Ϟ(˚▽˚)Ϟ
(づ_ど)
( ◦˘ з(◦'ں'◦)
Щ(̾˘̶̀̾̾ ̯˘̶́̾ ̾̾̾'̾̾Щ)̾
(˘̩̩ε˘̩ƪ)\('́⌣'̀ )
(ʃ˘̩̩̩_˘̩̩̩ƪ)
( ‾̴̴͡͡▿ ‾̴̴͡͡ʃƪ)
ƪ(ˇOˇ’!l)ʃ
~ƪ(‾ε‾“)ʃ
~(‾▿‾~)~(‾▿‾)~(~‾▿‾)~
(•̯͡ _` •̯͡")
(‾⌣‾"٥)
(╥﹏╥)
┐(ˇεˇ)┌
('́⌣'̀ʃƪ)
(⌣́_⌣̀)"
(‾▿‾\)┌( _o_ )┐ (/‾▿‾)/

»»  READMORE....

Monumen Banjarsari di Solo-ku

Taman Banjarsari persisnya terletak di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari. Taman ini berdekatan dengan Pasar Legi, salah satu pasar tradisional di Solo yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Taman Banjarsari bisa dicapai dari mana saja, karena berada di persimpangan banyak jalan. Di sebelah barat Monumen dulu ada sederet Pasar Barang Bekas, orang Solo menyebutnya ‘Pasar Klithikan’

Wilayah Taman Banjarsari dahulunya merupakan bagian dari Kadipaten Mangkunegaran, kerajaan pecahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755. Menurut sejumlah sumber, lokasi taman tersebut telah ada pada zaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Pada saat itu, Taman Banjarsari masih berwujud arena pacuan kuda, yang dilengkapi dengan tribune tempat para pembesar Mangkunegaran menonton.

Sebagai tempat pacuan kuda, Banjarsari awalnya lebih dikenal dengan sebutan Kampung Balapan. Balapan, sebagaimana dipahami juga dalam Bahasa Indonesia, berarti adu kecepatan. Nama Balapan kini melekat kepada stasiun kereta api utama di Kota Solo, yang jaraknya kira-kira 1 Km dari Taman Banjarsari.

Seiring berlalunya waktu, KGPAA Mangkunegara VI (1989-1916) menyewakan lahan di sekitar kawasan tersebut para pegawai Belanda yang bekerja di perkebunan. Masa sewanya selama 25 tahun dan dapat diperpanjang kembali apabila habis. Maka, muncullah rumah-rumah bergaya arsitektur Belanda atau loji. Wilayah itu pun berkembang menjadi lingkungan elit, yang diatur dengan undang-undang tersendiri, yaitu UU tentang Penggunaan Tanah Negara di Surakarta pada 1 November 1913.

Mulai dari periode inilah, Taman Banjarsari juga dikenal dengan nama Villa Park, yang berasal dari kata Villa: rumah bagus, dan Park: taman. Keindahan rumah-rumah milik kompeni itu saat ini masih bisa dilihat di sekitar Taman Banjarsari.

Sebelum didirikannya Monumen Perjuangan ’45, menurut sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Soedarmono SU, di taman itu terdapat ponten, yaitu tempat untuk mandi, mencuci dan buang air atau kakus (MCK). Namun, ponten ini umum dibangun di seluruh wilayah Mangkunegara pada masa KGPAA Mangkunegara VII.

Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, Kawasan Banjarsari digunakan sebagai ajang pengaturan siasat pertahanan kota oleh overste (letkol) Slamet Riyadi, menjelang kembalinya pasukan Belanda ke Kota Solo (Agersi Militer Belanda ke II). Kawasan tersebut memiliki nilai historis yang tinggi terhadap kemenangan pertempuran empat hari di Solo antara Perjuang Solo dengan Pasukan Belanda dalam mempertahankan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertempuran empat hari berlangsung di Solo pada tanggal 7 Agustus 1949 – 10 Agustus 1949 (setelah penandatanganan perjanjian Room Royen, dimana direalisasikan penghentian tembak menembak oleh Presiden Soekarno pada tanggal 3 Agustus 1949 dan mulai diberlakukan pada tanggal 11 Agustus 1949), kurang lebih 2000 pejuang yang dipimpin overste Slamet Riyadi terlibat baku tembak dengan tentara Belanda. Untuk mengenang pertempuran dasyat serta heroisme perjuangan Rakyat Solo pada peristiwa tersebut, pada tanggal 31 Oktober 1973 Pemkot Surakarta membangun monumen di Kawasan Taman Banjarsari. Pada tanggal 10 November 1976 (bertepatan dengan Hari Pahlawan), setelah 3 (tiga) tahun pembangunan maka peresmian monumen dilakukan oleh Gurbernur Jawa Tengah (kala itu) Soepardjo Roestam.

Monumen peringatan pertempuran empat hari di Solo tersebut dibangun dengan ukuran lantai 15 X 15 meter, di atas tanah lapangan seluas 17.688 km2. Laras muka menghadap ke Selatan, ukuran tingginya menurut pola semula adalah 13,5 meter, tetapi diubah menjadi 17 meter. Bangunan monumen berbentuk menyerupai atap joglo papak di atas terdapat Gambar Garuda Pancasila, lambang negara tersebut berukuran 2 meter, berat 225 kg, terbuat dari perunggu dan merupakan hadiah dari Bapak Soetami. Di bawah Joglo dilengkapi dengan lima patung yang besarnya 1,5 ukuran manusia biasa sebagai representasi perjuangan Rakyat Solo. Tiga patung menghadap ke Selatan ialah Patung Prajurit, Pemuda Pejuang, dan Wanita yang Membawa Bakul (tempat nasi) dan obat-obatan. Dua patung lagi terdapat di Utara terdiri dari patung Ulama Pejuang dengan membawa keris dan Pejuang Rakyat Jelata yang membawa bambu runcing. Di bawah patung terdapat dinding menggelilingi yang berisikan deretan relief yang sisi muka dan belakang yang masing-masing berukuran 11 meter, sedang sisi kiri kanan berukuran 8 meter, hingga separuhnya berjumlah 38 meter. Relief tersebut mengambarkan suatu rangkaian kejadian penting yang menjabarkan perjuangan Rakyat Solo sejak perang kemerdekaan hingga Orde Baru

Sejak awal pendirian monumen, kawasan tersebut sudah direncanakan akan dilengkapi bangunan-bangunan pendukung lainnya, diantaranya museum perjuangan, tempat rekreasi umum, sekaligus difungsikan sebagai ruang publik (public space). Belum sempat semua rencana itu terwujud Warga Kota Solo sudah merasa memiliki taman tersebut, dengan menjadikannya sebagai tempat favorit untuk bersantai, berolah raga ataupun sekedar melepas penat. Warga Kota Solo menjadikan Taman Monumen ‘45 Banjarsari sebagai tempat favorit untuk bersantai tidak lepas dari potensi lokasi yang strategis dan didukungan fasilitas yang ada di Kecamatan Banjarsari. Kecamatan Banjarsari dilihat dari demografis jumlah penduduk, luas wilayah dan kepadatan, merupakan peringkat terakhir di Kota Surakarta, dengan luas wilayah 14,81 Km2, jumlah penduduk 162.256 ribu dengan kepadatan 10.955 per Km2. Strategisnya letak Taman Monumen ‘45 Banjarsari juga karena keberadaan fasilitas-faslitas sarana dan prasarana meliputi: Stasiun Balapan; Terminal Tirtonadi; Pasar Legi (Pasar Tradisional dengan produk unggulan sayur dan bahan kebutuhan pokok); Pasar sepatu dan sandal, Pasar elektronika, pakaian bekas dan besi (ELPABES).

Banyaknya pengunjung, strategisnya letak, serta fasilitas pedukung Kawasan Monumen ’45 Banjarsari, menjadi kawasan tersebut memiliki daya tarik ekonomi bagi sebagian masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Pasca krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 dan kerusuhan Mei Tahun 1998 menjadi momentum bagi masyarakat korban PHK untuk mendapatkan pekerjaan dengan menjadi pedagang kaki lima di sekitar Kawasan Monumen ’45 Banjarsari. Monumen ’45 Banjarsari sebagai lokasi yang strategis untuk dijadikan lokasi berdagang.

Setelah dibersihkan dari PKL, Pemerintah Kota Solo merevitalisasi Taman Banjarsari sebagai salah satu kawasan terbuka hijau di Kota Budaya. Jalan dan pedestrian yang berada di dalam taman direvonasi. Pemkot pun menambahkan fasilitas berupa tempat duduk dan arena permainan untuk anak-anak.

Ada tangga naik ke pelataran tugu dmn kita bs melihat koleksi relief yg menceritakan sejarah kota Solo. Relief ini dibuat urut berlawanan arah jarum jam dimulai dr arah selatan tugu. Dimulai dr relief perjuangan rakyat Solo mengusir penjajah Jepang.



Kemudian diadakannya PON I di Stadion Sriwedari Solo.

Lalu serangan Agresi Militer Belanda yg membumihanguskan Solo.

Kemudian perlawanan rakyat Solo di bawah komando Letkol Slamet Riyadi untuk mengusir Belanda.

Relief ini melukiskan peristiwa G30S- PKI.

Ini menggambarkan bencana banjir besar yg prnh melanda Solo.

Relief ini menggambarkan Pemilu yg berjalan dg damai dan sukses di Solo.

Yang ini berbau Orde Baru bgt. relief ini menggambarkan pembangunan di Indonesia yg berlandaskan UUD 45.



Relief terakhir ini menggambarkan gotong royong dan kerukunan antarumat beragama di Solo. Lihat ada gambar masjid berdampingan dg gereja di sini.


Serangan Umum Tentara Pelajar Solo (DETASEMEN-II / BRIGADE-17 TNI), 8 Pebruari 1949, 2 Mei 1949 dan 7 – 10 Agustus 1949 yang kala itu terbukti berhasil memperkuat posisi tawar politik perjuangan diplomasi delegasi Republik Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB), Den Haag, sehingga berujung dicapainya Kedaulatan Republik Indonesia 27 Desember 1949 dapat berdampingan dengan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945. Hal ini terjadi karena Belanda sadar bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi.

Taman adalah kebutuhan mutlak bagi kota yang mendambakan lingkungannya berkualitas. Taman Banjarsari di Kota Solo, Jawa Tengah, memberikan pelajaran yang tak ternilai tentang betapa pentingnya pemeliharaan maupun penyelamatan taman sebagai ruang terbuka hijau di sebuah kota.

»»  READMORE....