Sabtu, 20 Juli 2013

Resensi Buku "Seperti Bintang"

Ini adalah tugas Bahasa Indonesiaku waktu di SMA 1 Surakarta bersama teman sebangkuku, semoga bisa jadi referensi buat kalian.

RESENSI BUKU


I. Identitas Buku


a. Judul : Seperti Bintang

b. Pengarang : Regina Feby

c. Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

d. Tempat penerbitan : Jakarta

e. Tahun penerbitan : 2005

f. Jumlah halaman : 224 halaman

g. Ukuran buku : 20x13,5 cm

h. Harga buku : Rp 25.000,00

i. Warna sampul : kuning



II. Sinopsis


“Ke Bali yuk!” ajak Lala. Ide-idenya memang selalu di luar dugaan, tapi tiga temannya nggak nyangka dia bakal segila ini.

“Hah? Naik apa?” tanya April, berhubung mobilnyalah yang biasa jadi transportasi mereka berempat.

“Mobil lo dong!” jawab Lala ringan.

Kontan semua nolak. Niken sudah punya rencana sendiri dengan pacar baru yang disembunyiin dari teman-temannya. Mandy yang atlet renang, harus rutin latihan renang karena bakal ada perlombaan. April sulit minta izin sama ortunya, ke sekolah aja urusannya panjang, apalagi ke Bali! Cewek semua lagi!

Ternyata di menit-menit terakhir, empat sahabat itu malah menyanggupi tantangan Lala. Alasan mereka sama, mereka mungkin tidak akan bisa berlibur bareng lagi, semua kan bakal kuliah di tempat yang berbeda.

Dimulailah perjalanan liburan yang diwarnai dengan ketawa-ketawa, foto-foto, dan cerita seru sepanjang jalan, namun kemudian satu demi satu rahasia terbongkar. Persahabatan mereka terancam hancur, masing-masing marah karena merasa dibohongi. Ternyata Lala lari dari rumah karena kesal orang tuanya akan bercerai. Niken sedang menjauhi cowok baru rahasianya karena curiga si cowok selingkuh dengan cewek lain. Mandy memutuskan untuk berhenti renang. April yang tidak punya rahasia, ikut-ikutan terkena omelan.

Namun pada akhirnya semua masalah dapat terselesaikan. Lala bisa menerima perceraian yang dijalani orang tuanya. Niken pun sudah tidak merahasiakan hubungannnya dengan Kafka dan kesalahpahaman dengan Moniq sudah terselesaikan karena ternyata Moniq hanyalah saudara tiri Kafka yang baru. Mandy yang awalnya berhenti berenang karena prestasinya menurun dan tidak bisa menikmati masa mudanya akhirnya memutuskan untuk kembali berenang atas dorongan teman baru yang ditemuinya di Bali, Okan, cowok yang ternyata merupakan pengagum rahasianya. Mandy pun menemukan cinta pertamanya. April yang polos memaafkan teman-temannya yang tiba-tiba mengomelinya dan permusuhan April dengan tetangganya yaitu Ivan berakhir menjadi kisah cinta semenjak Ivan mengikuti dan menjaga April selama berlibur ke Bali atas perintah ibu April.

Mereka berempat masih saling berhubungan walaupun terpisah oleh jarak dan waktu. Saat libur kuliah, mereka berempat serta Kafka dan Ivan menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka pun menyadari bahwa teman itu seperti bintang. Kadang terlihat, kadang tidak. Tapi kita tahu dia selalu ada di sana.



III. Unsur Intrinsik


a. Tema : Persahabatan

b. Alur/plot : Maju

c. Penokohan :

· Mandy : rajin, tekun, pendiam, dingin

· April : polos, tidak cepat tanggap, cinta damai

· Niken : dewasa, pintar, serius, berkharisma, perfeksionis

· Lala : periang, gegabah, cerewet, kreatif

· Kafka : rendah hati, tulus, pendiam

· Ivan : jahil, lucu, peduli

· Okan : suka menyemangati, baik hati

· Moniq : pendendam

· Oom Akira : tegas, bijaksana

· Ayah Lala : cuek, teguh, tidak dewasa

· Ibu Lala : cerewet, tabah, tidak dewasa

· Ibu April : posesif

· Gaby : pengertian

d. Latar/setting :

· Tempat : SMU YPC, ruang OSIS, rumah April, kolam renang

Tirta Air, penginapan di Bali, pantai Kuta Bali, rumah Niken, cafe Taman Bali, rumah Mandy, kota Anyer, jalan ke Bali, mobil April, rumah Lala, toserba, kapal penyebrangan, bandara Ngurah Rai, rumah Okan, bandara Soekarno-Hatta, pesawat

· Waktu : pagi, siang, sore, malam, liburan

· Suasana : sedih, senang, tegang, kacau, romantis, lucu, kaku

e. Sudut pandang : orang ketiga

f. Amanat :

· Jangan mudah menyerah

· Hendaknya kita belajar ikhlas

· Hendaknya menghadapi masalah dengan kepala dingin

· Jangan suka berbohong dan membohongi perasaan diri sendiri

· Hendaknya menjalin persahabatan dalam suka dan duka

IV. Keunggulan dan Kelemahan Buku

Novel berjudul Seperti Bintang ini, mempunyai keistimewaan dalam bidang penyajian. Sampul buku bergambar empat orang perempuan dengan karakteristik masing-masing yang merupakan tokoh utama dalam novel sehingga pembaca lebih mudah mengimajinasikan karakter yang ada. Pembaca dapat menemukan gambar-gambar dan symbol-simbol yang menarik sehingga mencegah kejenuhan dalam membaca. Selain itu, tampilan huruf dibuat sedemikian rupa sehingga membuat mata nyaman membacanya. Kalimat dalam novel ini juga disusun dengan baik dan tidak ada kesalahan dalam pengejaannya.

Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca. Memang menggunakan bahasa gaul, tetapi penulis mampu mengkombinasikan antara bahasa gaul yang sering dipergunakan anak muda dengan bahasa baku sehingga membuahkan sebuah novel yang berkualitas dari segi bahasa. Pemilihan kata yang dipergunakan penulis sangat tepat dan menambah kenyamanan dalam membaca di samping jalan cerita yang baik.

Ditengah-tengah maraknya novel yang bertema percintaan, novel ini hadir membawa nuansa baru dengan mengangkat tema dari sisi lain kehidupan remaja. Sebuah pengajaran tentang arti sahabat yang sesungguhnya dapat kita peroleh dari cerita yang dipaparkan dalam novel ini. Meskipun tema yang diangkat merupakan tema ringan, namun konfilk dan berbagai kejadian yang ada dalam novel dikemas dengan apik dan menimbulkan penasaran dalam benak pembaca untuk mengetahui kelanjutan kisah yang ada. Karena persahabatan merupakan suatu hal yang familiar bagi pembaca, maka kisah dalam novel ini merupakan cerminan bagian diri para pembaca. Sehingga, pembaca merasa seperti terjun dan mengalami langsung kejadian demi kejadian dalam novel.

Novel ini memberikan amanat yang berpengaruh besar untuk kehidupan seorang remaja dalam menjalani masa mudanya. Pepatah yang terdapat pada bagian akhir cerita dapat menjadi refleksi yang dalam bagi kehidupan persahabatan siapapun yang membacanya.

“Teman itu seperti bintang. Kadang terlihat, kadang tidak. Tapi kita tahu dia selalu ada di sana."

Meskipun novel ini mempunyai banyak kelebihan, namun tak luput dari kekurangan. Salah satu yang nampak adalah jalan cerita yang banyak mengandalkan unsur kesengajaan di dalamnya. Misalnya, para tokoh sama-sama mendapatkan masalah dalam satu waktu yang sama. Selain itu, kelemahan lainnya adalah jalan cerita yang membuat pembaca mudah untuk menebak bagian akhir kisah dalam novel.



V. Arah dan Sasaran Pemilihan Buku


Karena novel ini tergolong novel teenlit, maka sasaran utama penulis adalah kaum remaja. Yang mana kisah ini ditulis dari kejadian sehari-hari yang dialami oleh remaja. Namun, tidak menutup kemungkinan novel ini dibaca oleh kalangan yang lebih muda maupun tua. Karena kisah di dalam novel ini dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan semua kalangan.



VI. Unsur Bahasa yang Digunakan


Tokoh yang ada dalam novel ini nampaknya digambarkan sebagai orang Jakarta. Hal ini dapat diketahui dari penggunaan kata-kata gaul seperti “lo” dan “gue” yang dalam bahasa baku berarti “kamu” dan “saya”. Bahasa yang digunakan merupakan campuran bahasa gaul dan bahasa baku. Namun, penulis menuliskannya ke dalam bahasa yang mudah dipahami.



VII. Tujuan Pengarang Buku


Dari dulu penulis terobsesi membuat cerita tentang petualangan gadis-gadis yang memecahkan misteri, seperti mencari hantu atau menyelamatkan dunia dari makhluk asing yang mau menghancurkan bumi. Namun, penulis sendiri memiliki sifat yang penakut sehingga perjalanan mobil berisi empat gadis yang seharusnya tersesat di dunia lain diubahnya menjadi perjalanan memecahkan misteri jenis lain, yaitu misteri hidup yang namanya persahabatan. Penulis ingin mengungkap misteri persahabatan lewat novel ini.



VIII. Harapan dan Saran


Saran untuk novel Seperti Bintang ini supaya jalan cerita bisa dibuat lebih mendalam sehingga pembaca menjadi sulit untuk menebak akhir bagian cerita. Dan memberikan inovasi yang lebih kreatif dalam cerita.

Hal yang diharapkan adalah agar dunia pernovelan Indonesia bisa lebih maju dan berkualitas dalam pengangkatan tema. Karena pembaca memerlukan variasi dalam memperoleh bacaan yang dapat memberi pelajaran moral dan tidak melulu tentang persoalan cinta.

0 Comments:

Posting Komentar